WAKAF

WAKAF

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Menurut ahmad Ashar basir berpendapat bahwah yang dimaksud dengan wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tampa musnah seketika dan untuk penggunaan yang dibolehkan serta yang dimaksudkan untuk mendapatkan ridah allah. Dan dari difinisi-difinisi yang telah dijelaskan para ulamah diatas. Dapat dipahami bahwah yang dimaksud dengan wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, dan memungkinkan untuk diambil manfaatnya guna diberikan untuk jalan kebaikan,

Sarat-Sarat atau tujuan wakaf lurus sejalan dan tidak bertentangan dengan nilai agama sebab wakaf merupakan salah satu amalan Shadaqah dan Sadaqah merupakan salah satu perbuatan ibadah, maka tujuan wakaf harus yang termasuk ktegori ibadah atau sekurang-kurangnya adalah merupakan perkara mudah menurut ajaran agma islam yakni dapat menjadi sarana ibadah dalam arti luas

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian

Menurut bahasa wakaf berasal dari waaf yang berarti Radiah

(terkembalikan) ,al tabbies (tertahan),al-tasbil (tertawan) dan al-man’u (mencegah)[1].         Sedangkan menurut istilah (syara’) yang dimaksud dengan wakaf sebagaimana Yang didefinisikan oleh parah ulamah adalah sebagai berikut:

1.  Muhammad al-al-syrbini al-khtib berpendapat bahwah yang dimaksud  dengan wakaf adalah :

”Penahanan harta yang memungkinkan untuk dimanfaatkan di Sertai dengan kekalnya zat benda dengan memutuskan (memotong) tasharruf  (penggolongan) dalam penjagaannya atas Mushrif (pengelolah). Yang dibolehkan adanya.[2]

2        Imam Takiy al-Din Abi Bakr bin Muhammad al-Huseini dalam kita kifayat al-Akbyar berpendapat bahwah yang dimaksud dengan wakaf adalah:    ”Penahanan harta yang memungknkan  untuk dimanfaatkan dengan kekalnya benda (zatnya),dilarang untuk digolongkan zatnya dan dikelolah manfaatnya dalam kebaikan untuk mendekatkan dri pada allah SWT’’.[3]

3  Menurut Ahmad AzharBasyir berpendapat bahwah yang dimaksud dengan wakaf      Ialah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tampa musnah seketika dan untuk penggunaan yang dibolehkan,serta dimaksudkan untuk mendapat Ridah Alla

4        Idris Ahmad berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wakaf  ialah;

Menahan harta yang mungkin dapat diambil orang manfaatnya ,kekal zat (‘ain )-nya dan menyerahkannya  ke tempat-tempat yang telah ditentutukan syara ‘serta dilarang

Leluasa pada benda-benda yang dimanfaatkannya itu[4]

Dalam persoalan ini bila wakaf dikaitkan dengan obyek yang diwakafkan Ada beberapa hal yang perlu dicatat ,yaitu

  1. harta yang diwakafkan itu berarti ditahan oleh pihak yang berwaaf agar tidak dipindamilikkan atau tidak diwariskan ,tetapi dibiarkan supaya pokok harta yang diwakafkan itu tetap menjadi milik penuh sip emberi wakaf.
  2. Harta yang diwakafkan itu direakan atau diizinkan oleh pihak pemiliknya untuk diambil manfaatnya oleh penerima wakaf, baik manffat itu bersifat kebendaan ataupun non bendawi.
  3. Perelaan pemetikan manfaat oleh penerima wakaf itu merupakan kebijakan untuk menolong, baik didasari oleh motivasi keagamaan maupun motivasi oleh keduniaan.
  4. Karna wakf itu bertujuan memetik manfaat, otomatis benda yang diwakafkan itu adalah suatu yang mendatangkan manfaat.

Walaupun mungkin saja ada wakaf yang diberikan bukan.dimotifasi oleh ajaran agama ,tetapi islam menghendaki supaya seorang muslim haruslah berbuat sesuatu     untuk mencari keridhanAllah,termasuk dalam bidang kehartabendaan.bila motifasi suatu  perbuatan didorong oleh niat keagamaan,maka seseorang akan beroleh nilai ganda,yaitu nilai pahala di sisi Allah dan nilai keduniaan ,kendati pun bukan tujuan terahir ini yang menjadi sasaran utamanya.karna itulah,para ulamah fikih menekankan pelaksanaan wakaf sebagai salah satu bentuk tindakan terhadap harta guna mencari keridaan Allah.

Dalam merumuskan pengertian pengertian wakaf, parah ulamah fikih tdk memiliki kata sepakat.menurut jumhur ulamah,wakaf mereka difinisikan sebagai kegiatan penahanan harta yang berkemungkinan bermanfaat oleh pemiliknya dengan membiarkan ain nya tetap kekal dan tidak dipindahmilikkan kepada kaum kerabatnya atau kepada pihak lain.ulama Hanafiah mengatakan bahwah wakaf adalah membiarkan harta,seseorang tetap menjadi hak miliknya sert menyedekahkan manfaat harta itu untuk kebajikan.sedangan Ulama Malikiah berpendapat bahwa Wakaf adalah penahanan sesuatu hak milik supaya ia tetap ia menjadi milik pihak yang berwakaf sambil menyedahjkan hasil-hasinya.

Al-Qur’an tidak pernah berbicara secara spesipik dan tegas tentang wakaf. Hanya saja, karena wakaf itu merupakan salah satu bentuk kebajikan melalui harta benda, maka para ulama pun memahami bahwa ayat-ayat Al-qur’an yang memerintahkan pemanfaatan harta untuk kebajikan juga mencakup kebajikan melalui wakaf. Karena itu di dalam kitab-kitab Fikih ditemukan pendapat yang mengatakan bahwa dasar hukum wakaf disimpulkan dari beberapa ayat seperti:

  1. firman Allah dalam surah Al-imran ayat 92:

Artinya: “Kamu tidak sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

B. DASAR HUKUM WAKAF

Para ulama berpendapat bahwa hukum berwakaf itu dianjuran oleh agama, sebab padanaya merupakan salah satu bentuk kebajikan. Jadi, salah satu bentuk kebajikan melalui harata ialah dengan jalan berwakaf, sebab orang lain akan mendapat manfaat dari harta yang akan diwakafkan itu.

Pada dasartnya wakaf dibagi kepada dua bentuk.

  1. Wakaf yang diberikan kepada keluarga dan karib kerabat atau oratu orang-orang tertentu, yang disebut dengan wakaf al-abliy atau wakaf al-dzurry. Sasaraan wakaf jenis ini adalah pribadi tertentu atau masyarakat yang motivasinya bukan untuk memajukan agama islam.
  2. Wakaf untuk membagikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang disebut dengan wakaf al-khairiy. Mewakafkan sebidang tanah untuk masjid, umpamanya, termasuk ke dalam jenis wakaf yang terakhir ini. Wakaf al-khairiy inilah yang disukai, dan jenis ini pula yang banyak berlaku di Indonesia

Adapun yang dinyatakan sebagai dasar hukum oleh para ulama, Al-Qur’an surah al-haj : 77

Artinya: berbuatlah kamu akan kebaikan agar kamu dapat kemenangan.

Dalam ayat lain yaitu surah Al-imran ayat 92 Allah berfirman:   Artinya: Akan mencapai kebaikan bila kamu menyedekahkan apa yang kamu cintai.

Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Jamaah kecuali bukan dari Ibnu Majah dari Abi Hurairah RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda:  Artinya; Apabila mati seorang manisia maka terputuslah pahala perbuatannya kecuali tiga perkara yaitu: Shadaqah zariah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan baik dengan cara mengajar maupun dengan karangan dan anak saleh yang selalu mendoakan keduan orang tuanya.

Menurut ulama Syafi’ah bila sebuah banguna mesjid wakaf runtuh sehingga orang tidak mungkin lagi shalat di alamnya, maka hal itu tidak diserahkan kepada seseorang termasuk kepada wakif atau ahli warisnya dan tidak pula dijual atau diganti oleh bangunan itu sepenuhnya merupakan hak Allah. Akan tetapi, apabila dalam keadaan terpaksa seperti bangunan masjid  sudah terlalu sempit maka banguna tersebut boleh dijual atau ditukar yang penjualan atau harta  penukaran itu  dijadikan untuk dana pembangunan mesjid yang lebih besar . Demkian juga halnya dengan benda-benda wakaf lainya. Yang boleh dijual atau  ditukar bila dalam keadaan terpaksa. Penjualannya mestilah dengan harga yang patut atau dengan materi yang seimbang.

Mazhambali membolehkan menjual harta wakaf berupa bangunan mesjid sekalipun baik ia masih utuh atau sudah runtuh, penjualan atau penukaran itu dimaksudkan untuk melestarikan dan memaksimalisasikan nilai-nilai wakaf. Harta wakaf apa  saja boleh djual atau diganti dengan yang lebih bermanfaat.

Wakaf di Indonesia lebih ditekankan pada persoalan perwakafan tanah. Ini berarti bahwa wakaf selain tanah tidak di akui tetapi pengaturan ini mengingat tanah sebagai benda berharga yang banya menimbulkan persoalan dalam masyarakat apalagi tanah sebagai benda tidak bergerak yang tahan lama dan mempunyai nilai ekonomi yang tiggi.pada pasal 1 ayat (1) pp.N0.28 tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik dikatakan bahwah wakaf adalah “perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekeyaannya  yang berupa tanah milik dan melembagakannya  untuk selama-lamanya untuk kepentingan pribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama islam”.

Tentang pengaturan wakaf tersebut, pada pasal 3 ayat (1) dan (2) PP. No.28 tahun 1977 dinyatakan bahwa yang dapat mewakafkan tanah milik adalah Badan Hukum adalah pengurusnya yang sah, seadangkan orang perorangan atau perkelompok orang yang berwakaf disyaratkan telah dewasa, berakal sehat yang secara hukum tidak terhalang melakukan perbuatan hukum, serta atas kehendaknya sendiri.

C. SYARAT DAN RUKUN WAKAF

Adapun syarat-syarat yang bersifat umum adalah sebagai berikut:

  1. Wakaf tidak dibatasi dengan waktu tertentu, sebab perbuatan wakaf berlaku untuk selamanya, tidak untuk waktu tertentu maka bila seseorang mewakafkan kebun untuk jangka waktu 10 tahun misalnya, maka wakaf tersebut dipandang batal.
  2. Tujuan wakaf harus jelas, seperti mewakafkan sebidang tanah untuk masjid mushalla, pesantren, pekuburan (makam) dan yang lainnya. Namun apabila seseorang mewakafkan sesuatu kepada hukum tanpa menyebut tujuannya, dipandang sah, sebab penggunaan benda-benda wakaf tersebut menjadi wewenang lembaga hukum yang menerima harta-harta wakaf tersebut.
  3. Wakaf harus segera dilakasanakan setelah dinyatakan oleh yang mewakafkan, tanpa digantungkan kepada terjadinya sesuatu pristiwa yang akan terjadi dimasa akan dating sebab pernyataan wakaf yag berakibat lepasnya hak milik yang mewakafkan seketika, bila akaf digantungkan dengan kematian yang mewakafkan, ini yang betalian dengan wasiat dan tidak bertalian dengan wakaf. Dalam pelaksanaan seperti ini, maka berlakulah ketentuan-ketentuan yang bertalian dengan wasiat.
  4. Wakaf merupakan kerkawa yang wajib dilaksanakan tanpa adanya hak khabiyar (membatalkan atau melangsungkan wakaf yang telah dinyatakan), sebab pernyataan wakaf berlaku seketika dan untuk selamanya.

Adapun Rukun-Rukun Wakaf ialah:

  1. Orang-orang yang berwakaf (wakif)
  2. Harta yang diwakafkan (mauquf)
  3. Tujuan wakaf (mauquf ‘alaib)
  4. Pernyataan wakaf  (sbigat waqf)

Adapun syarat-syarat yang berkaitan dengan yang mewakafkan (wakif)

Ialah. bahwa wakif mempunyai kecakapan melakukan tabarru, yaitu melepaskan hak milik tanpa imbalan materi, orang yang dikatakan cakap bertindak tabaru adalah baligh, berakal sehat dan tidak terpaksa.

Dalam fiqh islam dikenal dengan Balik dan Rasyid,

Baligh dititik beratkan pada umur dan rasyid dititik beratkan pada kematangan pertimbangan akal,maka akan dipandang tepat bila dalam cakap bertabarru disyaratkan rasyid,yang dapat ditentukan dangan penyelidikan.

Sayrat-sayarat yang berkaitan dengan harta yang diwakafkan

Ialah bahwa harta wakaf(maukuf) merupakan harta yang bernilai, milik yang

  1. Mewakafkan(wakif) dan tahan lama untuk digunakan. Harta wakaf dapat juga berpa uang yang dimodalkan, berupa saham pada perusahan dan berupa apa saja yang lainnya, yang penting pada harta yang berupa modal ialah dikelola dengan sedemikian rupa (semaksimal mungkin) sehingga mendatangkan kemaslahatan atau keuntungan.

Syarat-syarat tujuan wakaf ialah bahwa tujuan wakaf (mauquf’alaib)

Bahwa tujuan wakaf harus sejalan (tidak bertentangan) dengan nilai-nilai ibadah, sebab wakafmerupakan salah satu amalan shdaqah dan sadaqah merupakan sala satu perbuatan ibadah, maka tujuan waqaf harus yang termasuk kategori ibada atau sekurang-kurangnya adalah merupakan perkara-perkara muda menurut ajaran agama islam, yakni yang dapat menjadi sarana ibada dalam arti luas. Harta waqaf harus

Segera dapat diterima setela waqaf diikrarkan, bila waqaf diperuntukan membangun tempat-tempat ibada umum, hendaklah ada badan yang menerimanya.

  1. Orang yang berwaqaf yang merupakan salah satu unsur wakaf mestilah ada. Tidakmungkin ada wakaf bila tidak ada pihak yang berwakaf. Syaratorang yang berwakaf adalah:
  1. Orang yang berwakaf itu mestila suda kecepatan bertindak yang sempurna sehingga ia boleh mentabur”kan hartanya, yaitu sudah dipandang pantas dan patut untuk melakukan tindakan terhadap hartanya, yakni suda baligh dan berakal secara sempurna. Anak-anak yang mumayyiz ataupun orang dewasa yang tidak mempunyai akal yang sempurna dinilain belum cakap bertabarru; sebab ia tidak mempunyai pertimbangan yang sempurna atas sesuatu tindakanya.
  2. Tidak dalam keadaan terpaksa atau dipaksa. Orang yang mewakafkan hartanya itu dituntut supaya perbuatanya dilakukan bukan secara terpaksa, tetapi harusla dengan kerelaan berdasarkan iradah dan ikhtiarnya. Dalam konteks ini, unsure kerelaan merupakan sala satu syarat penting yang harus dipunyai oleh yang berwakaf. Bila ia melakukan perbuatannyaitu karena terancam, wakafnydinilai tidak sah.
  3. Orang yang berwakaf disyaratkan sebagai pemilik sah dari harta yang diwakafkannya. Mewakafkan sesuatu yang belum jelas pemiliknya, seperti mewakafkan harta warisan yang belum dibagi, tidak dibolehkan.

2        Benda yang diwakafkan, adalah salah satu unsur wakaf. Benda yang diwakafkan itu harusla memenuhi persyratan sebagai berikut:

  1. Benda itu mestila memiliki sah dari pihak yang berwakaf.
  2. Benda yang diwakafkan itu mestila tahan lama dan bias di ambil manfaatnya. Tidak ada artinya mewakafkan sesuatu yang tidak tahan lama atau mendatangkan manfaat.
  3. Benda yang diwakafkan itu mestilah sesuatu yang boleh dimiliki yang dimanfaatkan.karena itu tidak boleh mewakafkan seekor babi atau benda-benda haram lainnya kepada umat Islam.
  4. Kabar benda yang diwakafkan tidak boleh melebihi jumlah sepertiga harta yang berwakaf, sebab hal ini bias merugikan pihak ahli waris dari yang berwakaf.

3.   Sasaran wakaf, yakni wakaf yang diberikan itu mesti jelas sasaranya. Dalam hal ini ada dua sasaran wakaf, sebagaimana disinggung di atas yaitu:

  1. Wakaf untuk mencari keridhaan Allah. Wakaf jenis ini tujuanya adalah untuk memajukan agama islam atau karena motivasi agama. Contohnya berwakaf untuk kepentingan rumah ibadah kaum muslim
  2. Wakaf unutk meringankan atau membantu seseoraang atau orang-orang tertentu atau masyarakat bukan karena motivasi agama. Contohnya adalah berwakaf untuk fakir miskin atau berwakaf untk keluarga dalam hal sasaran wakaf ini, yang perlu digaris bawahi adalah bahawa wakaf tidak boleh dilakukan untuk hal-hal yang berkepentingan agama islam

Sighat wakaf atau ikrar wakaf, yani berupa ucapan yang menujukan adanya wakaf. Shighat yang dipakai adalah kata-kata yang menujukkan adanya wakaf walaupun tidak harus dengan redaksi wakaf ini, tentu saja yan palng diutamakan adalah kata ‘wakaf”. Tentu saja yang palng diutamakan adalah kata wakaf, sehinggah dengan mudah bias ditangkap makna dari ikrar wakaf itu.

Bolekah harta yang sudah diwakafkan ditarik kembali setelah ikrar wakaf dilakukan? Dalam ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama, yaitu ada yang mengatakan boleh dan ada yang tidak membolehkan. Pada persoalan ini harus diakui bahwa tidak ada suatu dalil yang tegas menerangkannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa benda yang diwakafkan itu tetap sebagai hak milik yang  mewakafkan, kendatipun ikrar wakaf sudah diucapkan, sebagaimana kesimpulan dari pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Disamping itu pula  pendapat yang mengatakan bahwa harta yang telah di wakafkan sudah keluar dari hak milik si waqif, sebagai pandangan Imam Syafii dan Ahamd bin Hanbal.[5] Abu Hanifa mengakui bahwa pada mulanya adanya wakaf memang ikrar wakaf itu menghilangkan hak milik. Akan tetapi, praktek seperi itu tidak berlaku lagi setelah turunya ayat-ayat yang bagiaan warisan. Hal ini, kata Abu Hanifa , disarkan sabda Rasullah yang di riwayatkan oleh baihaqi sebagai berikut :   “ tdak ada wakaf setela turunya surat an-Nisa (yang mengatur tentang warisan)”.

Dari pehaman tersebut, Abu hanifah berkesimpulan bahwa walaupun wakaf masih dilakukan setelah turunnya ayat-ayat waris, tetapi perubahan tersebut tidak lagi menghilangkan hak milik yang berwakaf atas benda yang diwakafkannya. Sebagai konsekuensinya, siwakif tetap berhak sebagai pemilik penuh atas benda yang diwakafkannya, seperti ia berhak kembali menarik kembali wakaf itu, Namun demikian, Abu hanifah mengakui bahwa harta wakaf ada yang tidak boleh ditarik kembali yaitu:

1)      Apabila berdasarkan keputusan hakim bahwa harta wakaf itu tidak boleh dan tidak dapat ditarik kembali.

2)      Apabila wakaf itu dilakukan dengan jalan wasiat.

3)      Apabila benda yang diwakafkan itu ditujukan untuk kepentingan ibadat ataupun keperluan umum, seperti berwakaf untuk mesjid.

Imam malik juga mengakui bahwa harta wakaf untuk tempat ibadah sudah keluar dari hak milik siwaqif. Ulama ini juga berpendapat bahwa harta wakaf selain untuk tempat ibadah masih tetap sebagai hak milik yang berwakaf. Hanya saja, menurut Imam malik, orang yang berwakaf itu tidak berhak menarik kembali harta wakafnya itu memang milik yang berwakaf tetapi milik dalam arti yang tidak sempurna. Dalam persoalan ini hubungan antara yang berwakaf dengan benda yang diwakafkannya tetap ada, karena dengan hubungan itulah maka orang yang berwakaf

D.MACAM MACAM WAKAF

Wakaf yang jelas sahnya yaitu kepada orang yang tela ada dan terus-menerus itdak putus-putusnya.Adapun beberapa macam wakaf yang dijelaskan dibawa ini adalah wakafyang menjadi perselisihan antara beberapa ulama tentang sahatau tidaknya:

  1. Putus awalnya, seperti kata seorang, “saya wakafkan ini kepada anak-anak saya, kemudian kepa fakir miskin, “ sedangkan dia tidak mempunyai anak. Ini tidak sah karena tidak dapat diberikan sekarang.
  2. putus ditengah, umpamanya seseorang berkata,”saya wakafkan ini kepada anak-anak saya, kepada seseorang dengan tidak ditetukanya, kemudian kepada orang-orang miskin. “ Menurut pendapat yang kuat,wakaf ini sah. Di berikannya wakaf sesudah tingkatan pertama kepada tingkatan ketiga
  3. putus ahirnya,umpamanya dia berkata, “saya mewakafkan ini kepada beberapa anak A, “dengan tidak diterangkan kepada siapa.wakaf semacam ini sah juga menurut pendapat yang mu’tamad sesudah habis anak dari A. sebagian ulamah berpendapat bahwah hasil wakaf diberikan kepada orang yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan orang yang berwakaf,karna sedekah kepadah familih lebih utama.tetapi sebagian ulamah yang lain  berpendapat diberikan kepada fakir dan miskin

Menurut para ulama bahwa secara umum wakaf dibagi menjadi dua bagian:

1.wakaf Abli (khusus);

2 wakaf kbai( umum).

Wakaf ahli disebut juga wakaf keluarga atau wakaf khusus,yang dimaksud dengan wakaf ahli ialah wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu,seorang atau terbilang,baik keluarga wakif maupun orang lain.misalnya seseorang mewakafkan buku-buku yang ada diperpustakaan peribadinya untuk turunanya yang mampu menggunakan.

Wakaf  semacam ini dipandang sah dan yang berhak menikmati harta wakaf itu adalah orang-orang yang ditunjuk dalam pernyataan wakaf.

Masalah yang akan mungkin akan timbul dalam wakaf ini adalah apabila turunan atau orang-orang yang ditunjuk tidak ada lg yang mampu mempergunakan benda-benda wakaf,mungkin juga yang disebut atau ditunjuk untuk memanfaatkan benda-benda wakaf telah punah,bagaimana nasif harta wakaf itu?

Bila terjadi hal-hal tersebut,dikembalikan pada syrat umum wakaf tidak boleh dibatasi dengan waktu,dengan demikian,meski pun orang-orang dinyatakan berhak memanfaatkan benda-benda wakaf telah punah,buku-buku tersebut tetap berkedudukan sebagai benda wakaf yang digunakan oleh keluarga yang lebih jauh atau bilah tidak ada lagi digunakan oleh umum.

Berdasarkan pengalaman,wakaf ahli setelah melampaui ratusan tahun mengalami kesulitan dalm pelaksanaan sesai dengan tujuan wakaf yang sesungguhnya,terlebih bilah turunannya dimaksud telah berkembang dengan sedemikian rupa,berdasarkan kepada hal ini dimesir wakaf ahli dihapuskan dengan undang-undang no 180 tahun 1952.

Wakaf kbairi ialah wakaf sejak semula ditujukan untuk kepentingan-kepentingan umum tidak dtujukan kepada orang-orang tertentu.

Wakaf khbiri inilah yang benar-benar sejalan dengan amalan wakaf yang amat digembirakan dalam ajaran islam,yang dinyatakan pahalanya terus mengalir hingga wakif meninggal dunia,selama harta masih bisa dapat diambil manfaatnya.

E. Sarat Sarat wakif

Dalam wakaf terkadang wakif mensaratkan sesuatu,baik satu maupaun terbilang.wakif dibolehkan menentukan syarat-syarat penggunaan harta wakaf,syara-syarat tersebut harus dihormati selama sejalan dengan ajaran agama islam.misalnya seseorang mewakafkan tanah untuk mendirikan pasantren khusus laki-laki,syrat seperti itu harus dihormati,karma syrat seperti itu sejalan dengan ketentuan-ketentuan  syara apabila syarat-syrat penggunaan harta wakaf bertentangan dengan ajaran islam, wakafnya dipandang sah,tetapi syaratnya dipandang batal.misalnya seseorang telah mewakafkan tanah untuk mesjid dengan syarat hanya dipergunakan oleh parah anggota perkumpulan tertentu,maka wakafnya dipandang sah,tetapi syaratnya tidak perlu diperhatikan.

F.MENUKAR DAN MENJUAL HARTA WAKAF

Berdasarkan hadits yang ririwatkan imam bukhari dan muslim dari ibnu umar  RA yang menceritakan tentang wakaf  umar bahwa wakaf tidak boleh dijual,diwariskan dan dihibahkan,yang jadi masalah ialah apabilah harta wakaf berkurang,rusak atau tidak memenuhi fungsihnya sebagai harta wakaf, apakah harta wakaf tetap akan dipertahankan tidak ditukar atau dijual?

Perbuatan wakaf dinilai ibadah yang senang tiasa mengalir pahalanya,apbilah harta wakaf itu dapat memenuhi fungsihnya yang ditujuh.dalam hal harta berkurang,rusak atau tidak dapat memenuhi fungsinya yang dituju,harus dicarikan jalan keluaragar harta itu tidak berkurang,utuh dan berfungsih,bahkan untuk menjual atau menukar pun tidak dilarang,kemudian ditukarkan dengan benda lain yang dapat memenuhi tujuan wakaf.

Salah seorang ulamah Mazhab hambali yang dikenal dengan nama ibnu Qudamah berpendapat bahwah apabila harta wakaf mengalami rusak hingga tidak dapat membawa manfaat sesuai dengantujuannya,hendaklah dijual saja,kemudian harga penjualannya dibelikan benda-benda lain yang akan mendatangkan manfaat sesuai dengan tujuan wakaf dan benda-benda yang dibeli itu kedudukan sebagai harta wakaf seperti semula[6][7]

G.Pengawasan harta wakaf

Pada dasarnya pengawasan harta wakaf adalah hak wakif, tetapi wakif boleh menyerahkan pengawasan kepada yang lain,baik lembaga maupun perorangan,untuk menjamin kelancaran masalah perwakafan,pemerintah berhak campur tangan dengan mengeluarkan peraturan- peraturan yang mengatur permasalahan-parmasalahan dan termasuk pengawasannya.

Pengawas wakaf yang sifatnya perorangan diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:(a)Berakal sehat,(b)baligh,(c) dapat dipercaya dan(d) mampu melaksanakan urusan-urusan wakaf,bila syrat-syarat tersebut tidak terpenuhi hakim berhak menunjuk orang lain yang mempunyai hubungan kerabat dengan wakif, bila kerabat juga tidak ada,maka ditunjuk orang lain.Agar pengawasan bisa berjalan dengan baik,maka pengawas wakaf yang bersifat perorangan dapat diberi imbalan secukupnya sebagai gajinya atau boleh diambil dari hasil harta wakaf.

Pengawas harta wakaf berwenang melakukan perkara-perkara yang dapat mendatangkan kebaikan harta wakaf dan mewujudkan keuntungan-keuntungan  bagi tjuan wakaf, dengan memperhatikan syarat-syrat yang ditentukan wakif.

Jaminan perwakafan di indonesiadinyatakan dalam undang-undang pokok Agraria No.5tahun 1960 pasal 49 ayat 3 yang menyatakan bahwa perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur oleh tangan pemerintah.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dari uraian diatas penulis menark beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1)   Wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil orang manfaatnya. Ikrar wakaf dapat berupa ucapan yang menunjukkan adanya wakaf.

2)   Perbuatan wakaf  dinilai ibadah yang senantiasa mengalir pahalanya apabila harta wakaf  itu sudah memenuhi fungsinya yang harapkan.

3)   Pengawas harta wakaf berwenang  melakukan perkara-perkara yang dapat mendatangkan kebaikan  harta wakaf dan mewujudkan keuntungan-keuntungan bagi tujuan wakaf dengan memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan wakif.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Drs. HENDI. HEDI SUHENDI,Msi Fiqih Muamala:Membahas ttg Ekonomi islam.jakarta:Pt. Raja Grafindo Persada 2002
  2. HELMI KARIM. Fiqih Muamalah . Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada  2002.
  3. H. SULAIMAN RASJID.Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994.

[1] Muhammad al- Syarbini al- Khatib, Al-Iqna fi hall al-AlFadz Abi syuza, (dar-al-Ihyal-al Kutub: Indonesia,t,t),hlm. 319.

[4] Ahmad azhar basir wakaf;izarab dan ziyrkab,Pt.Al-Ma’arif:Bandung 1987

[5] Fat-hi Duraini,op.cit.,hlm.387.10 ibid.,hlm.401

[6] Ibit.,hlm 19

Satu Balasan ke WAKAF

  1. tubagus burhanudin mengatakan:

    Jika seorang telah mewakafkan sbidang tanah untuk d buat madrasah diniyah,kmudian tanah tersbut d tukar dng tanah milik orang lain yg dekat dengan masjid, Tujuanya agar madrasah yg akan d bangun tersbut dekat dengan masjid….apa hal tersbut d perbolehkan dan tidak melanggar aturan agama…..????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: